
Assalamualaikum dan salam hormat kepada semua wedding fotografer semua.
Hari ini saya nak berkongsi satu pengalaman yang sangat dekat di hati saya setelah 30 tahun saya dalam wedding photography – iaitu tentang black and white photography dan kenapa ia hanya sesuai untuk segmen pasaran tertentu sahaja.
Bila Client Cakap “Bang, Kenapa Gambar Hitam Putih? Saya Nak Warna!”
Alamak, saya pernah mengalami situasi ni berkali-kali. Dulu masa mula-mula start, saya excited nak showcase artistic vision saya. Setiap wedding saya akan masukkan at least 30-40% black and white photos dalam album.
Yang jadi masalah? Client complain habis-habisan. Pelik juga bagi saya sebab dalam profile saya banyak juga saya upload gambar black & white.
“Bang Azam, kenapa banyak sangat gambar hitam putih? Makeup saya cantik glowing cam artis, baju pengantin warna cream – kenapa tak nampak semua tu?”
Masa tu saya frustrated. Dalam hati saya cakap – “Korang tak faham ke artistic value dia? Black and white tu capture emotion, capture soul of the moment!”
Tapi yang saya tak sedar masa tu – saya targeting wrong market segment. Ataupun dengan kata lain masa tu siapa yang nak ambil saya, saya hanya terima. Saya terima tanpa tanya adakah mereka dah tengok profile saya.
Yang Saya Perhatikan Sepanjang 30 Tahun Dalam Industri
Berdasarkan pengalaman saya, ada dua jenis client yang sangat berbeza:
Client Kategori 1: Price-Sensitive Market (Budget RM1000-3000)
- Focus pada quantity photos
- Nak semua warna nampak cantik
- “Bang, bagi la 2000 keping gambar”
- Makeup artist pun insist nak warna nampak
- Family members nak tengok colour theme wedding
Client Kategori 2: Art-Appreciative Market (Budget RM6000 dan keatas+)
- Faham nilai artistic expression
- Appreciate black and white sebagai storytelling tool
- “We trust your artistic vision”
- Usually overseas educated atau arts background
- Tengok portfolio sebab style, bukan sebab price
Yang penting – korang kena faham market mana korang nak target!
Pengalaman Peribadi: Bila Saya Found My Market
Alhamdulillah, breakthrough saya jadi bila saya start positioning myself betul-betul.
Masa tu ada satu client – kedua-dua mereka adalah interior designer. Chinese couple yang saya dapat masa saya shoot untuk magazine. Budget dia memang high-end, tapi yang best – first meeting dia cakap:
“Azam, we saw your black and white work. It’s exactly what we want. We don’t want typical colourful wedding photos. We want art.”
Subhanallah! First time ada client yang specifically request untuk black and white approach.
Yang saya buat masa tu:
- 60% black and white photos
- 40% selective colour processing
- Focus pada emotion, candid moments
- Artistic composition over traditional poses
Result? Mereka jadi repeat client untuk family portraits, dan refer ramai kawan-kawan dalam circle yang sama.
Strategy Yang Saya Gunakan Untuk Brand Positioning
Serious talk – kalau korang nak succeed dengan black and white photography, korang kena strategic:
1. Portfolio Curation Yang Betul
Jangan campur-campur style dalam satu portfolio. Saya ada dua approach:
Mainstream Portfolio: 95% colour, 5% black and white (bergantung pada keadaan)
- Untuk budget-conscious clients
- Focus pada beauty, colours, traditional shots
Artistic Portfolio: 40% black and white, 60% artistic colour
- Untuk high-end, art-appreciative clients
- Focus pada emotion, storytelling, composition
2. Pricing Strategy Yang Match
Yang korang kena faham – artistic black and white photography memerlukan:
- More time dalam post-processing
- Higher skill level dalam composition
- Better understanding of light and shadow
- Artistic eye yang developed over years
Jadi pricing pun kena reflect value tu. Saya charge minimum RM6000 untuk artistic approach, berbanding RM3000 untuk mainstream approach.
3. Portfolio adalah untuk Educate client
Bila potential client inquire, saya akan explain:
“apa yang mereka lihat dalam port flower saya di Instagram, itu adalah gambaran foto yang akan dapat di dalam album. Ada mix sekala dan black and white yang artistik.”
Kebiasaan nya mereka akan reply “ya kami tahu”.
Cabaran Yang Wedding Fotografer Akan Hadapi
Masalah 1: Family Pressure
Pernah terjadi pada saya – pengantin suka black and white, tapi family members tak faham.
“Kenapa gambar macam zaman dulu-dulu? Colour tak cantik ke?”
Kebiasaannya kau macam ini datang daripada di luar daripada keluarga terdekat pengantin. Bukan mak ayah. selain daripada mak ayah dan adik beradik.
Masalah 2: Vendor ?
Percayalah vendor tak akan complain. Saya pernah mendapat request daripada datuk Ibrahim supaya membuat album 100% dalam black white untuk dirinya. Datuk Rizal man siap bagi contoh buku lagi pada saya untuk upgrade gambar black white saya supaya jadi seperti photograper YSL dari Pari, France.

Masalah 3: Social Media Expectation
Hal ini anda tak perlu risau kerana masyarakat sudah mula sedar. Jikalau tak percaya anda cuba lihat Instagram sendiri. Instagram telah memberikan 3 preset dalam black & white. Ni bermakna masyarakat memang faham dan masyarakat memang mahu.
Bila Black And White Photography Memang Perfect
Berdasarkan apa yang saya buat selama ni, ada situation tertentu di mana black and white memang superior:
1. Emotional Moments
- Preparation
- Akad nikah ceremony
- Father-daughter moments
- Mother helping bride getting ready
2. Architectural Elements
- Masjid interiors dengan beautiful arches
- Classic hotel ballrooms
- Garden ceremonies dengan strong shadows
3. Detail Shots
- Henna art pada tangan
- Wedding rings dengan texture
- Fabric details on baju pengantin
Nasihat Saya
Yang penting awak anda menjadi autentik. jikalau anda sendiri tak minat black and white, tolong jangan buat. Sebab kalau tak ada feeling, shooting anda pun tidak menjurus kepada untuk diedit kepada black white. Anda tak nampak subjek dalam black and white dan akan menyebabkan gambar black & white anda mungkin tak jadi.
Jangan force black and white kepada client yang tak appreciate. Jangan compromise artistic vision untuk client yang tak faham value dia.
Seterusnya jika anda ok dengan black and white, find your tribe – reposition syarikat anda. Build client base yang truly appreciate artistic photography, and they will pay premium for your vision.
Kesimpulan
Ingat baik-baik – black and white photography is not for everyone. 30 tahun saya dalam wedding photography banyak mengajar saya tentang taste pelanggan. It requires specific market positioning, proper client education, dan most importantly, genuine artistic vision.
Kalau korang passionate tentang artistic expression, go for high-end market. Kalau korang prefer stable income dengan volume clients, stick dengan mainstream approach.
Both approaches are valid. Yang penting korang consistent dengan positioning dan deliver according to client expectations.
Instagram saya: @azamneurmaya
Jika perlu cepat untuk edit black and white, saya akan menggunakan preset ini dari Nik Silver Efex. Link.








